Tiga Usulan Kebebasan Pers

TERAS MEDAN. Pemberangusan, penghancuran secara ekonomi dan pemenjaraan jurnalis, itulah pola-pola tradisional negara represif yang mencoba membungkam pers dan mengekang kebebasan berpendapat.

Tapi sekarang ada bahaya lain, yang tidak mudah terlihat, terutama didukung struktur viral jaringan internet. Orang-orang, dan makin sering juga mesin-mesin, menyebarkan kabar bohong, rekaman video atau foto yang difabrikasi atau sengaja dipalsukan, dengan tujuan untuk memanipulasi.

Fake News, kampanye desinformasi lewat media sosial, fitnah dan penyebaran ancaman, sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Yang berada di belakang kegiatan itu makin sering bukan orang biasa, melainkan tenaga ahli teknologi dan komunikasi. Selain itu ada kevenderungan beberapa negara yang mencoba memblokir dan menyensor internet dan memasang jaringan dalam negerinya sendiri. Itu misalnya bisa diamati di Iran, Cina, belakangan juga di Rusia dan Turki.

Jawabannya hanya satu: Warga harus belajar membedakan kabar bohong dari berita yang menyampaikan fakta. Kompetensi ini harus menjadi bagian dari pelajaran di sekolah. Tidak hanya anak sekolah, orang-orang dewasa juga harus punya kompetensi media, karena mereka harus memahami, bahwa kecenderungan ini tidak hanya mengancam kebebasan pers, melainkan juga pada akhirnya kebebasan pribadi mereka sendiri. Di “ruang-ruang yang bersifat pribadi, orang harus punya kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa harus takut ada represi dan penindakan.

Kewajiban dan tanggung jawab politisi

Politisi dari negara demokrasi di seluruh dunia sekarang berlomba-lomba mendatangi dan memuji Cina. Bahwa di negara ini kebebasan pers sudah lama ditindas dan berita-berita independen diblokir, termasuk pemberitaan DW, tidak menjadi tema penting lagi. Wakil-wakil kalangan ekonomi tentu lebih memikirkan bisnis mereka ketimbang situasi hak asasi.

Juga di Iran yang jadi tema utama adalah kerjasama ekonomi, bukan nasib lebih 20 jurnalis yang ditahan dan disiksa di rumah tahanan dan tempat penyekapan milik Garda Revolusi Iran.

Di Bangladesh dan Pakistan, para Blogger bisa kehilangan nyawa, kalau mereka menulis seusatu yang kritis tentang radikalisme yang makin meluas di negaranya. Hampir tidak ada dukungan bagi mereka dari luar negeri. Dunia merayakan Putra Mahkota Arab Saudi, karena ia mengijinkan perempuan sekarang mendapat surat ijin mengemudi kendaraan, sementara hampir tidak ada yang peduli, bahwa Blogger Raif Badawi masih mendekam di penjara Arab Saudi.

Daftar ini bisa terus diperpanjang. Daftar yang menyedihkan. Hari Peringatan Kebebasan Pers 3 Mei ini adalah hari yang tepat, untuk menilai para politisi kita, seberapa jauh mereka bertindak untuk mencegah serangan-serangan terhadap kebebasan pers yang makin lama makin luas. Apakah mereka dengan tegas memrotes tindakan para diktatur itu? Apakah mereka bersedia kehilangan potensi bisnis besar, ketika nilai-nilai penting ini jeklas-jelas sedang terancam?

Para jurnalis – faktor yang menentukan

Kebebasan pers bukan hanya sesuatu yang dijamin oleh hukum atau diberikan oleh penguasa. Kerangka hukum adalah satu hal, sikap para jurnalis hal lainnya. Justru para jurnalis dan pekerja media yang menikmati kebebasan pers di negaranya akan menjadi acuan dan contoh bagi jurnalis lain yang harus bekerja dalam kondisi lebih buruk.

Menjadi jurnalis berarti, selalu bersedia mempertanyakan keyakinan sendiri atau keyakinan kelompok kolega. Bahkan ketika kita merasa sesuatu sudah cukup pasti, kita harus bersedia mempertanyakan fakta-faktanya lagi. Dan kita tidak boleh takut, kalau kesimpulan kita ditolak oleh kubu “kawan”, dan malah diterima oleh kubu “lawan”.

Banyak jurnalis di sini misalnya yang menolak melakukan wawancara dengan para politisi ultra kanan. Ini justru mengkhawatirkan. Karena kalau kita mulai membeda-bedakan kelompok politik, atau berusaha menghindari politisi atau tokoh publik yang pandangannya kurang kita senangi, atau yang saat ini sedang tidak disukai publik, pemberitaan akan tidak seimbang. Akan terjadi kekosongan, yang akan diisi oleh pihak lain.

Kalau kita melakukan itu, kita hanya akan melemahkan kebebasan pers, yang sebenarnya ingin kita bela melalui peringatan Hari Pers Internasional ini. (DW/tempo)

 

Share |
error: Content is protected !!